Thursday , October 18 2018
Latest Post
Home / Artikel / Bahaya Riba Dalam Sendi Perekonomian
Bahaya Riba Dalam Sendi Perekonomian

Bahaya Riba Dalam Sendi Perekonomian

 

Riba, Si Perusak Sendi Perekonomian

Oleh : Farta Putra ( Eks. Pekerja Riba Lembaga Keuangan)

Menurut pandangan kebanyakan manusia, pinjaman dengan sistem bunga akan dapat membantu ekonomi masyarakat yang pada gilirannya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi rakyat. Anggapan tersebut telah menjadi keyakinan kuat hampir setiap orang, baik ekonom, pemeritah, praktisi bahkan masyarakat. Intelektual muslim terdidik yang tidak berlatar belakang pendidikan ekonomipun memiliki keyakinan yang kuat tentang hal tersebut. Tentu saja menjadi tidak aneh, jika para pejabat negara dan direktur perbankan seringkali bangga melaporkan jumlah kredit yang dikucurkan untuk pengusaha kecil dalam jumlah sekian puluh triliun rupiah. Begitulah pandangan dan keyakinan hampir semua manusia saat ini dalam memandang sistem kredit dengan instrumen bunga. Hal ini sebagai akibat dari  pandangan material (zahir) manusia yang seringkali terbatas.

Pandangan umum di atas bertentangan dengan Firman Allah dalam Al-quran surah Ar-Rum : 39, “Apa yang kamu berikan (berupa pinjaman) dalam bentuk riba agar harta manusia bertambah, maka hal itu tidak bertambah di sisi Allah”(QS.ar-Rum :39).

Ayat ini menyampaikan pesan bahwa pinjaman (kredit) dengan sistem bunga tidak akan membuat ekonomi masyarakat tumbuh secara agregat dan adil. Pandangan Al-quran ini secara nyata sangat kontras dengan pandangan manusia tentang riba. Manusia menyatakan bahwa pinjaman dengan sistem bunga akan meningkatkan ekonomi masyarakat, sementara menurut Allah, pinjaman dengan sistem bunga tidak membuat ekonomi tumbuh dan berkembang, karena riba secara empiris telah menimbulkan dampak buruk bagi perekonomian, khususnya bila ditinjau dari perspektif makro.

Harus dicatat, bahwa Al-quran membicarakan riba (bunga) dalam ayat tersebut dalam konteks ekonomi makro, bukan ”hanya” ekonomi mikro. Bahkan sisi ekonomi makro jauh lebih besar. Kesalahan umat Islam selama ini adalah membahas riba dalam konteks ekonomi mikro semata.

Membicarakan riba dalam konteks teori ekonomi makro adalah mengkaji dampak riba terhadap ekonomi masyarakat secara agregat (menyeluruh), bukan individu atau perusahaann (institusi). Sedangkan membicarakan riba dalam lingkup mikro, adalah membahas riba hanya dari sisi hubungan kontrak antara debitur dan kreditur. Biasanya yang dibahas berapa persen bunga yang harus dibayar oleh si A atau perusahaan X selaku debitur kepada kreditur. Juga, apakah bunga yang dibayar debitur sifatnya memberatkan atau menguntungkan. Ini disebut kajian dari perspektif ekonomi mikro.

Padahal dalam ayat, Al-Quran menyoroti praktek riba yang telah sistemik, yaitu riba yang telah menjadi sistem di mana-mana, riba yang telah menjadi instrumen ekonomi, sebagaimana yang diyakini para penganut sistem ekonomi kapitalisme. Dalam sistem kapitalis ini, bunga bank (interest rate) merupakan jantung dari sistem perekonomian. Hampir tak ada sisi dari perekonomian, yang luput dari mekanisme kredit bunga bank (credit system). Mulai dari transaksi lokal pada semua struktur ekonomi negara, hingga perdagangan internasional.

Jika riba telah menjadi sistem yang mapan dan telah mengkristal sedemikian kuatnya, maka sistem itu akan dapat menimbulkan dampak buruk bagi perekonomian secara luas. Dampak sistem ekonomi ribawi tersebut sangat membahayakan perekonomian.

Pertama, Sistem ekonomi ribawi telah banyak menimbulkan krisis ekonomi di mana-mana sepanjang sejarah, sejak tahun 1930 sampai saat ini. Sistem ekonomi ribawi telah membuka peluang para spekulan untuk melakukan spekulasi yang dapat mengakibatkan volatilitas ekonomi banyak negara. Sistem ekonomi ribawi menjadi puncak utama penyebab tidak stabilnya nilai uang (currency) sebuah negara. Karena uang senantiasa akan berpindah dari negara yang tingkat bunga riel yang rendah ke negara yang tingkat bunga riel yang lebih tinggi akibat para spekulator ingin memperoleh keuntungan besar dengan menyimpan uangnya dimana tingkat bunga riel relatif tinggi. Usaha memperoleh keuntungan dengan cara ini, dalam istilah ekonomi disebut dengan arbitraging. Tingkat bunga riel disini dimaksudkan adalah tingkat bunga minus tingkat inflasi.

Kedua, di bawah sistem ekonomi ribawi, kesenjangan pertumbuhan ekonomi masyarakat dunia makin terjadi secara konstant, sehingga yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. Data IMF menunjukkan bagaimana kesenjangan tersebut terjadi sejak tahun 1965 sampai hari ini.

Ketiga, Suku bunga juga berpengaruh terhadap investasi, produksi dan terciptanya pengangguran. Semakin tinggi suku bunga, maka investasi semakin menurun. Jika investasi menurun, produksi juga menurun. Jika produksi menurun, maka akan meningkatkan angka pengangguran dan kemiskinan.

Keempat, Teori ekonomi makro juga mengajarkan bahwa suku bunga akan secara signifikan menimbulkan inflasi. Inflasi yang disebabkan oleh bunga adalah inflasi yang terjadi akibat ulah tangan manusia. Inflasi seperti ini sangat dibenci Islam, sebagaimana ditulis Dhiayuddin Ahmad dalam buku Al-Quran dan Pengentasan Kemiskinan. Inflasi akan menurunkan daya beli atau memiskinkan rakyat dengan asumsi cateris paribus.

Kelima, Sistem ekonomi ribawi juga telah menjerumuskan negara-negara berkembang kepada debt trap (jebakan hutang) yang dalam, sehingga untuk membayar bunga saja mereka kesulitan, apalagi bersama pokoknya.

Keenam, dalam konteks Indonesia, dampak bunga tidak hanya sebatas itu, tetapi juga berdampak terhadap pengurasan dana APBN. Bunga telah membebani APBN untuk membayar bunga obligasi kepada perbakan konvensional yang telah dibantu dengan BLBI. Selain bunga obligasi juga membayar bunga SBI. Pembayaran bunga yang besar inilah yang membuat APBN kita defisit setiap tahun. Seharusnya APBN kita surplus setiap tahun dalam jumlah yang besar, tetapi karena sistem moneter Indonesia menggunakan sistem riba, maka tak ayal lagi, dampaknya bagi seluruh rakyat Indonesia sangat mengerikan.

Dengan fakta tersebut, maka benarlah Allah yang mengatakan bahwa sistem bunga tidak menumbuhkan ekonomi masyarakat, tapi justru menghancurkan sendi-sendi perekonomian negara, bangsa dan masyarakat secara luas. Itulah sebabnya, maka lanjutan ayat tersebut pada ayat ke 41 berbunyi :”Telah nyata kerusakan di darat dan di laut, karena ulah tangan manusia, supaya kami timpakan kepada mereka akibat dari sebagian perilaku mereka. Mudah-mudahan mereka kembali ke jalan Allah”

Konteks ayat ini sebenarnya berkaitan dengan dampak sistem moneter ribawi yang dijalankan oleh manusia. Kerusakan ekonomi dunia dan Indonesia berupa krisis saat ini adalah akibat ulah tangan manusia yang menerapkan riba yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

Dalam buku Krisis Ekonomi Global dan Solusi Ekonomi Islam dijelaskan bahwa factor utama penyebab krisis adalah RIBA. Karya DR Samir Kantakji, Al Azmah al Maaliyah al Alamiyah hal.34

Kronologisnya sebagai berikut:

Dalam rentang tahun 2002-2006 suku bunga (riba) bank di Amerika cukup rendah sedangkan harga property mengalami kenaikan yang cukup tajam, maka pengajuan kredit property warga Amerika meningkat. Hal ini disambut baik oleh bank-bank konvensional dengan memudahkan pemberian kredit.  Sebagaimana di maklumi bahwa suku bunga tidak tetap, naik-turun seiring dengan naik-turunnya suku bunga yang ditetapkan oleh bank sentral.  Pada awal tahun 2006 terjadi perubahan drastic, dimana suku bunga bank naik sedangkan harga property turun. Maka para kreditur tidak memiliki pilihan selain menghentikan angsuran kredit karena angsuran yang harus mereka bayar begitu besar akibat kenaikan suku bunga bank, juga tidak senilai dengan harga property yang mereka beli akibat menurunnya harga property. Maka terjadilah kredit macet. Dengan terjadinya kredit macet, institusi keuangan Amerika menjadi lumpuh sehingga beberapa bank mengumumkan jatuh pailit. Itulah penyebab awal terjadinya krisis ekonomi global.

Bank sentral Amerika untuk menghadapi krisis  kredit perumahan dengan menurunkan suku bunga hingga mencapai 1 persen untuk meredam ketatnya likuiditas. Dengan demikian, mereka hanya bermain dengan menurunkan dan menaikkan suku bunga (RIBA).

Dalam salah satu kunjungan wakil menteri keuangan Amerika Serikat yang bernama Robert Keymet ke Riyadh Saudi Arabia, ia mengatakan system perbankan dan Ekonomi Islam merupakan prioritas kajian pemerintah Amerika Serikat dalam rangka menyelamatkan ekonominya. Harian al Jazirah Riyadh 26 Oktober 2008

Sebenarnya jauh sebelum itu pada tahun 1930, Mr. Athur Kinston berujar lantang di hadapan komite keuangan dan industry Mc Millan setelah terjadinya great depression yang melumpuhkan Wall Street, saya adalah ANTI RIBA dalam segala bentuknya, RIBA merupakan kutukan dunia semenjak kemunculannya, RIBA telah menghancurkan imperium-imperium terdahulu dan imperium ini, dan akan MENGHANCURKAN IMPERIUM YANG LAINNYA. DR. SULAIMAN AL ASYGAR, QODHAYA FIQHIYYAH MUASHIRAH JILID II, HAL.73

DIKUTIP DARI BUKU HARTA HARAM MUAMALAH KONTEMPORER KARYA   DR. ERWANDI TARMIZI MA. Cetakan pertama (FEBRUARI 2012) hal. 313 s/d 328 dengan pengeditan dan peringkasan seperlunya.

 Riba Harus Digusur Dalam Kehidupan

Penerapan ekonomi ribawi di Indonesia telah merusak sendi kehidupan masyarakat dan membangkrutkan negara. Jangankan melihat bagaimana kondisi orang/ perusahaan yang bangkrut karena terlilit utang berbunga, dan kondisi bank yang mengalami kredit macet, negara pun merasakan pahitnya terlilit utang, sehingga menjadi negara kelas dua, hina, mudah diinjak-injak orang, dan terutama kebijakannya dalam mengelola perekonomian nasional terlihat “tidak waras” bagi kepentingan masyarakat banyak.

Pemerintah yang terililit utang ribawi, berada dalam posisi yang sangat lemah terutama ketika berhadapan dengan IMF, Bank Dunia, Amerika, bahkan dengan negara sekecil Singapura. Pemerintah juga takluk di bawah ketiak konglomerat dan cukong-cukongnya. Maka tak heran kebijakan pemerintah dalam bidang politik, ekonomi dan pembangunan bukannya memihak dan menguntungkan bagi rakyatnya, tetapi menguntungkan dan menghamba kepada Bank Dunia, IMF, negara-negara maju, para investor, konglomerat dan pejabat korup.

Ancaman dan peringatan Allah SWT serta fakta kerusakan ekonomi ribawi hendaknya benar-benar kita camkan. Jangan sampai kita tetap larut dalam sistem riba ini. Maka tidak ada kata lain selain riba harus digusur dari perekonomian kita.

Allah SWT mengingatkan kita dalam QS. Al Baqarah ayat 275, yang artinya “padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…”.Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa jual beli sebagai cara untuk menambah kekayaan yang dibenarkan. Ini berarti dalam bidang ekonomi, maka suatu perekonomian seharusnya tegak berdiri di atas sektor riil bukan sektor non riil. Sektor riil yang dimaksud di sini adalah usaha produksi, perdagangan, dan jasa yang sesuai syariah bukan yang sesuai dengan hukum buatan manusia seperti kapitalisme.

Menggusur riba dalam perekonomian harus diikuti dengan menggusur kapitalisme baik sebagai sistem ekonomi maupun sebagai ideologi/sistem kehidupan dari Indonesia. Karena itu, alternatif praktis untuk mengikis riba sampai ke akar-akarnya adalah dengan mengubah ideologi dan sistem negara termasuk sistem ekonominya dengan disertai revolusi pemikiran masyarakat menjadi masyarakat yang Islami sehingga tidak terjadi lagi eksploitasi di dalam masyarakat.

Pengalaman kami sendiri 8 tahun berkecimpung dalam Roda Syaiton Riba, tidak ada nasabah yang benar-benar maju dalam usaha nya, kebanyakan mereka Hancur dan Sengsara, kalaupun ada yang bertahan itu hanya 1 tahun, setelah itu akan meminta top up (penambahan hutang).

Sering kali perpindahan (take over) nasabah dari suatu lembaga keuangan ke lembaga keuangan lain dengan nasabah yang sama, mereka minjam dari lembaga keuangan A Rp 100.000.000,- setelah uangnya habis dalam jangka waktu 6 bulan paling cepat, akan minta tambahan dana lagi (top up), namun karena kebijakan masing-masing lembaga keuangan berbeda dalam proses top up, maka Nasabah di bantu untuk take over ke lembaga keuangan lain dengan naiknya nilai hutang menjadi Rp 150.000.000 (contohnya). Hal ini dilakukan sebagian besar nasabah.

Dan sering nasabah yang kami alami sendiri, hancur usahanya di saat setelah top up, karena usaha tidak mampu lagi menanggung beban hutang berbunga/riba yang harus ditanggungkan setiap bulan.

Di perusahaan dahulu saya bekerja pada tahun 2014-2017 wilayah Bukittinggi, kehancuran pelaku usaha yang umumnya pedagang terjadi dengan sangat signifikan. Kehancuran lebih banyak di dominasi nasabah top up dan nasabah take over. Sebagai contoh salah satu Nasabah pedagang Pakaian Jadi, yang memiliki pinjaman dari lembaga keuangan lain kalau di total lebih dari Rp 9M, kemudian kami tambah bebannya Rp 1M dengan jangka waktu 12 Bulan, Allah melihatkan kebenaran Ayat-Ayatnya, pada saat angsuran ke 6, usaha Kolaps dan seluruh hutang di tempat lainpun berantakan. Hal ini menyebabkan kemelut usaha yang berkepanjangan dari pelaku riba ini.

Seperti kata Ustadz Erwandi, Usaha Riba itu hancurnya seperti bulan Purnama menuju Bulan Sabit, perlahan-lahan namun pasti.

Apakah masih mempunyai nyali untuk melakukan transaksi Riba? Apakah sanggup melawan tantangan perang dari Allah dan Rasul-NYA bagi pelaku Riba?

Pemberi riba, Penerima Riba, Pencatat Riba dan Saksinya, adalah Sama.

 

Sumber :

  1. http://www.angsuransyari.com/index.php/bmb-blog/7-mengapa-kita-harus-menjauhi-riba
  2. http://jurnal-ekonomi.org/saatnya-menggusur-riba-dari-percaturan-ekonomi-indonesia/
  3. http://zonaekis.com/riba-dan-meta-ekonomi-islam/
  4. https://wordpress.com/2012/05/19/dampak-riba-terhadap-kehancuran-ekonomi-masyarakat/

About dareliman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Translate »
Read previous post:
Pemerintah RI Tetapkan 1 Ramadhan 1438 H Bertepatan dengan 27 Mei 2017

Hukum Taruhan dan Judi dalam Lomba

Dialog Ilmiah – Tinjaun Hukum Islam Tentang BPJS Kesehatan

Close