Wednesday , February 21 2018
Latest Post
Home / Akidah / KEUTAMAAN MENGUCAPKAN SALAM DENGAN LAFAZH SALAM YANG LENGKAP
KEUTAMAAN MENGUCAPKAN SALAM DENGAN LAFAZH SALAM YANG LENGKAP

KEUTAMAAN MENGUCAPKAN SALAM DENGAN LAFAZH SALAM YANG LENGKAP

Oleh

Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ. فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ ثُمَّ جَلَسَ، فَقَالَ النَّبِىُّ  صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ : «عَشْرٌ ». ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ. فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ، فَقَالَ: « عِشْرُونَ ». ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ. فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ، فَقَالَ « ثَلاَثُونَ » صحيح رواه أبو داود والترمذي وغيرهما.

Dari ‘Imran bin Hushain Radhiyallahu anhu dia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: as-Salâmu ‘alaikum (semoga keselamatan dari Allah tercurah untukmu). Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas salam orang tersebut, kemudian orang tersebut duduk dan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Dia mendapatkan) sepuluh kebaikan”. Kemudian datang orang lain kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: as-Salâmu‘alaikum warahmatullah (semoga keselamatan dan rahmat dari Allah tercurah untukmu). Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas salam orang tersebut, kemudian orang tersebut duduk dan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Dia mendapatkan) dua puluh kebaikan”. Kemudian datang lagi orang lain kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: as-Salâmu‘alaikum warahmatullahi wabarakâtuh (semoga keselamatan, rahmat dan keberkahan dari Allah tercurah untukmu). Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas salam orang tersebut, kemudian orang tersebut duduk dan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Dia mendapatkan) tiga puluh kebaikan”[1].

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan orang yang mengucapkan salam dengan lafazh lengkap seperti yang tersebut di dalam hadits, karena dengan ini dia akan mendapatkan tiga puluh pahala kebaikan, artinya setiap lafazhnya mendapatkan sepuluh kebaikan[2]. Meskipun tentu saja mengucapkan salam dengan dua lafazh sebelumnya diperbolehkan dan tetap mendapatkan ganjaran pahala kebaikan, tetapi kurang dari lafazh lengkap di atas.

Lafazh salam yang lengkap ini juga dianjurkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih lainnya, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika seorang bertemu dengan saudaranya sesama muslim maka hendaklah dia mengucapkan (salam): as-Salâmu‘alaikum warahmatullahi wabarakâtuh[3].

Beberapa Faidah penting yang dapat kita ambil dari hadits ini:

1.  Arti ucapan salam as-Salâmu‘alaikum adalah perlindungan dan penjagaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagimu, karena as-Salâm adalah salah satu dari nama-nama Allah yang maha Indah. Ada juga yang mengartikan: keselamatan dan kesuksesan (dari Allah) bagimu[4].

2. Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

 “Apabila diucapkan salam kepadamu, maka balaslah salam itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah maha memperhitungkan segala sesuatu” [An-Nisaa’/4: 86].

3.  Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Artinya: apabila seorang muslim mengucapkan salam kepadamu, maka balaslah/jawablah dia dengan (lafazh) salam yang lebih baik dari ucapan salamnya, atau balaslah dengan ucapan salam yang serupa. Maka menambah (dengan ucapan salam yang lebih baik ketika menjawab salam) adalah dianjurkan, sedangkan (menjawab salam dengan lafazh) yang serupa adalah wajib”[5].

4. Tidak diperbolehkan menambah ucapan/lafazh salam lebih dari yang disebutkan dalam hadits di atas, khususnya ketika mengucapkan salam (bukan ketika menjawab salam), karena hadits yang menyebutkan penambahan adalah hadits yang lemah.

5. Diriwayatkan dari Mu’adz bin Anas Radhiyallahu anhu dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , semakna dengan hadits di atas, tapi dengan tambahan di akhir hadits: …Kemudian datang lagi orang lain (yang ke empat) kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “as-Salâmu ‘alaikum warahmatullahi wabarakâtuhu wa magfiratuh” (semoga keselamatan, rahmat, keberkahan dan pengampunan dari Allah tercurah untukmu). Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “(Dia mendapatkan) empat puluh kebaikan” dan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demikianlah keutamaan-keutamaan (dijadikan semakin bertambah)”[6].

6. Hadits ini adalah hadits yang lemah, karena di dalam sanadnya ada rawi yang bernama Sahl bin Mu’adz bin Anas, Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentangnya: “Dia dilemahkan (riwayat haditsnya)”[7].

7. Imam Ibnu Hajar rahimahullah menukil dan menguatkan atsar-atsar dari beberapa Shahabat Radhiyallahu anhum yang menunjukkan tidak bolehnya penambahan ini, yaitu ‘Umar bin al-Khattab, putra beliau ‘Abdullah dan ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu anhuma, mereka berkata: “Ucapan salam berakhir (dengan lafazh) wabarakaatuh[8].

8. Adapun ketika menjawab/membalas salam maka hal ini disyariatkan, yaitu dengan menambahkan lafazh “…wa magfiratuh (dan pengampunan dari Allah)”. Hal ini berdasarkan hadits yang shahih tentang perbuatan para Shahabat Radhiyallahu anhum ketika menjawab salam Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

9. Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dengan sanad beliau dalam  at-Tarikh al-Kabir (1/329-330), dari Zaid bin Arqam Radhiyallahu anhu, beliau berkata: “Dulunya kami (para Shahabat Radhiyallahu anhum), jika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam kepada kami, maka kami menjawab: wa’alaikas salâmu warahmatullahi wabarakâtuhu wa magfiratuh (dan bagimu keselamatan, rahmat, keberkahan dan pengampunan dari Allah)”

Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilatul Ahâdîtsish Shahîhah (3/433, no. 1449).

_______
Footnote
[1] HR Abu Dawud (no. 5195), at-Tirmidzi (5/52) dan Ahmad (4/439), dinyatakan shahih oleh Imam at-Tirmidzi, Imam Ibnu Hajar dalam “Fathul    Bâri” (11/6) dan Syaikh al-Albani, serta dinyatakan hasan oleh Imam al-Baihaqi dalam “Syu’abul iman” (6/453) dan dibenarkan oleh Imam al-‘Iraqi dalam “Takhriiju ahâdîtsil ihyâ’” (2/164).

[2] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (7/384).

[3] HR at-Tirmidzi (5/52) dan lain-lain, dinyatakan shahih oleh Syaikh al-Alabni dalam “ash-Shahîhah” (no. 1403).

[4] Lihat penjelasan Imam an-Nawawi dalam “Syarh Shahih Muslim” (4/117).

[5] Kitab “Tafsir Ibni Katsir” (1/705).

[6] HR Abu Dawud (no. 5196).

[7] Kitab “al-Kâsyif” (1/470).

[8] Lihat kitab “Fathul Bâri” (11/6).

Sumber: almanhaj.or.id

About dareliman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Read previous post:
Hukum Jual Beli ketika Shalat Jumat

KEUTAMAAN SUJUD DAN MEMPERBANYAK DO’A DI DALAMNYA

Kita Yang Selalu Lalai

Close