Wednesday , May 23 2018
Latest Post
Home / Akidah / ORANG JAHILIYYAH SAJA MALU BERDUSTA
ORANG JAHILIYYAH SAJA MALU BERDUSTA

ORANG JAHILIYYAH SAJA MALU BERDUSTA

Kejujuran bak mutiara mahal yang semestinya diusahakan oleh setiap insan Mukmin dan Mukminah bagi diri mereka sendiri dan keluarga yang mereka sayangi. Ia merupakan salah satu bentuk karakter yang bersifat universal. Siapapun akan menyukai kejujuran dan membenarkan orang yang jujur serta mendudukan orang-orang yang suka berbuat dan berkata jujur.

Perintah Allâh untuk Jujur

Secara khusus pun, Allâh Azza wa Jalla telah memerintahkan kita semua, kaum Mukminin untuk berlaku dan bertutur jujur.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allâh, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar [At-Taubah/9:119].

Perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk Jujur

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ. وَلَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا

Hendaklah kalian jujur. Karena kejujuran akan mengantarkan kepada kebajikan. Dan kebajikan akan mengantarkan menuju Surga. Tidaklah seseorang senantiasa jujur dan berusaha kuat untuk jujur kecuali akan ditulis di sisi Allâh sebagai orang yang shiddiiq. [1]

Dalam hadits mulia ini, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa kejujuran itu akan mengantarkan kepada tujuan luhur dan orang shiddîq akan mendapatkan kedudukan. Adapun tujuan luhur dari kejujuran adalah kebajikan dan kebaikan, dan kemudian dilanjutkan menuju Surga. Sedangkan kedudukan orang yang jujur adalah shiddîqîyyah, sebuah kedudukan di bawah kedudukan nubuwwah (kenabian).

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

Dan barang siapa yang menaati Allâh dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu Nabi-nabi, para shiddîqîn, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang yang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. [An-Nisâ/4:69]

Seorang Mukmin Tidak Pantas Berdusta

Seorang Mukmin tidak sepantasnya melakukan dusta dalam ucapannya. Hal ini dikarenakan dusta merupakan sifat yang melekat pada diri orang-orang munafiqin.

Allâh Azza wa Jalla berfirman tentang mereka:

وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

Dan Allâh mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafiq itu benar-benar orang pendusta. [Al-Munâfiqûn/63:1]

Orang Mukmin tidak berdusta karena ia mengimani ayat-ayat Allâh dan beriman kepada Rasul-Nya. Ia mempercayai bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

إِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى النَّارِ وَلَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا

Sesungguhnya dusta itu akan menyeret kepada al-fujûr. Dan sesungguhnya tindak kejahatan itu akan menyeret menuju Neraka. Dan tidaklah seseorang itu sering berdusta dan sengaja untuk berdusta hingga akan ditulis di sisi Allâh sebagai pendusta.[2]

Betapa buruk akhir dari kedustaan. Betapa rendah martabat seorang yang berdusta. Kedustaan akan mengakibatkan melakukan fujûr (tindakan jahat), yaitu menyimpang dari jalan yang lurus, dan lalu terjerumus ke dalam Neraka. Orang yang berdusta itu orang rendah, sebab ia ditulisi di sisi Allâh sebagai pendusta. Itulah seburuk-buruk julukan bagi seseorang.

Seseorang di muka bumi ini akan gerah bila disebut-sebut sebagai pendusta di tengah masyarakatnya, bagaimana perasaannya bila di tulis di sisi Rabbnya sebagai pendusta?. Seorang pendusta dalam hidupnya, tidak akan dipercayai lagi saat mengabarkan sesuatu atau berbisnis dengan orang lain. Citra buruk pun akan tetap melekat padanya setelah  meninggal.

Allâh Azza wa Jalla telah memadukan antara dusta dengan penyembahan terhadap berhala-berhala. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ

Maka, jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta.[Al-Hajj/22:30]

Apakah setelah ini, masih pantaskah ada seorang Mukmin yang menjadikan dusta sebagai kebiasaan dalam akhlaknya dan jalan dalam kehidupannya?!.

Orang Jahiliyah Menghindari Dusta

Dahulu, orang-orang kafir dalam masa jahiliyah menjauhi dusta dan tidak menjadikannya sebagai karakter hidup mereka atau sebagai jalan meraih apa yang mereka inginkan. Lihatlah Abu Sufyân sebelum ia memeluk Islam, saat ia bersama rombongan dagang berada di Syam. Tatkala Heraklius mendengar keberadaan mereka di sana, ia pun mengutus seseorang agar mendatangkan Abu Sufyân ke hadapannya untuk ditanya tentang Muhammad bin ‘Abdillâh, orang yang mengaku sebagai nabi. Saat itu, Abu Sufyân mengatakan, “Seandainya bukan karena malu, kalau orang-orang tahu aku berdusta, maka aku pastilah akan bicara bohong (tentang Muhammad)”[3]

Mari kita perhatikan, seseorang dalam kekufuran dan jahiliyahnya, enggan ketahuan berdusta walaupun sekali saja, padahal ia memandang kedustaannya tentang Muhammad bin Abdillah akan mendatangkan maslahat bagi dirinya.

Maka, sangat memprihatinkan bila ada sebagian orang dari umat ini, sering melakukan dusta. Ini sebenarnya menjadi indikator keburukan. Bila seseorang sudah melakukannya sekali dua kali, maka akan mudah baginya untuk mengulang-ulangnya kembali, sehingga akhirnya menjadi kepribadian dan karakter baginya.

Kesalahan dan keburukan dusta akan lebih parah bila diiringi dengan mengambil hak orang lain, membela orang yang salah atau digunakan untuk mencoreng citra orang yang baik-baik.

Berdusta Untuk Membuat Orang Tertawa

Bentuk dusta lainnya yang terkadang tidak disadari sebagai bentuk kebohongan, seseorang mengada-adakan cerita lucu atau anekdot untuk membuat orang lain tertawa.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan orang seperti ini dalam sabdanya:

وَيْلٌ لِلَّذِيْ يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ. وَيْلٌ لَهُ ثُمَّ وَيْلٌ لَهُ

Celaka, bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk membuat orang-orang tertawa. Celaka baginya, celaka baginya. [4]

Dusta Orang Tua Kepada Anak

Sebagian orang tua tergelincir dalam dusta di hadapan anak-anaknya, lantaran sekedar ingin menenangkan sang buah hati. Mereka janjikan ini itu kepada anak-anak, padahal tidak ada niat sekalipun untuk merealisasikannya. Sikap demikian ini, jelas sudah menjerumuskan orang tua ke dalam dusta dan meremehkannya. Maka, jangan salahkan siapa-siapa, bila anak secara tidak langsung telah dididik untuk berdusta.

Mari kita simak riwayat dari ‘Abdullâh bin ‘Amir  yang pernah dipanggil sang ibu. Sang ibu mengatakan, “Kesinilah, aku beri engkau (sesuatu)”. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah yang akan engkau berikan kepadanya?”. Ia menjawab, “Kurma”. Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَمَّا إِنَّكِ لَوْ لَمْ تُعْطِهِ شَيْئًا لَكُتِبَتْ عَلَيْكِ كَذِبَةً

Jika engkau tidak akan memberinya sesuatu, maka akan tertulis satu kedustaan atas dirimu [HR. Abu Dawud dan  Al-Baihaqi]

Penutup

Jujur adalah akhlak mulia, yang akan memuliakan pemilik sifat itu mulia  di sisi Allah dan dipercaya oleh sesama manusia. Dan seorang Muslim melakukannya karena mengamalkan perintah Allah dan perintah Rasul-Nya, dan mendorong anak-anak dan anggota keluarganya untuk selalu komitmen dengan akhlak mulia ini. Wallâhu a’lam.

(Diadaptasi oleh Ustadz Abu Aisyah Lc dari adh-Dhiyâ’u al-Lâmi’u minal Khuthabil Jawâmi’, Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimîn, Dar Tsurayya, Cet. I, Th.1425, 5/376-383)

_______
Footnote
[1]HR. Al-Bukhâri no.6094 dan Muslim no.2607.

[2]HR. Al-Bukhâri no.6094 dan Muslim no.2607

[3]HR. Al-Bukhâri no.7

[4]HR. ath-Tsalâtsah. Isnâdnya qawi.

Sumber: almanhaj.or.id

About dareliman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Translate »
Read previous post:
KEUTAMAAN MENGUCAPKAN SALAM DENGAN LAFAZH SALAM YANG LENGKAP

Hukum Jual Beli ketika Shalat Jumat

KEUTAMAAN SUJUD DAN MEMPERBANYAK DO’A DI DALAMNYA

Close